bukan berarti aku tidak berusaha
bukan berarti pula aku tak pernah mencoba
berjuta waktu telah kuarungi mendaki sebuah bukit
bukit kehidupan sosial yang tinggi curam bagai tanpa akhir
ingin dilihat ingin diakui
ingin ditanya ingin setidak-tidaknya diingat
jari-jari tangan terkelupas habis
oleh erosi ego dari kerikil-kerikil salah sangka
telapak kaki baal dari hantaman kapalan iri hati
tetes-tetes keringat penuh masalah yang dibuat-buat oleh pikiran sendiri
jatuh bercampur dengan sepasang mata
yang lelah oleh silaunya pancaran matahari
yang sinarnya menusuk penuh rasa keheranan
kenapa makhluk seperti ini bisa ada disini?
kenapa dia tidak menyadari dimana harusnya dia berada?
kenapa dia tidak diam saja dibawah?
apa daya diri tidak mampu
menahan gejolak ingin berdiri diatas sang bukit itu
berdiri diatas padang rumput hijau tidak terlihat
mitos tentang kebaradaan sang danau diatas sana
danau ketenangan berisi mata air kehormatan diri
siapa yang minum dari danau tersebut akan diakui
akan dihormati
akan diketahui keberadaannya
dari situ dia akan berdiri di ujung bukit tersebut
menunduk melihat kebawah
memperhatikan kaum-kaumnya sedang berusaha
berdiri di tempat dia berdiri dan menunduk
minum air danau yang dia minum
dan diakui layaknya dia diakui setelah sampai diatas
dari situ pula dia akan mengulurkan tangannya
dengan syarat tersaksikan oleh orang-orang lainnya yang juga ada diatas
bersama dengan dia
apabila tersaksikan sudah
dia akan menolong dan membantu kaum-kaumnya
bagai induk singa menolong anaknya
menjadi panutan dan pahlawan
bagi adik-adik kelasnya
menjadi figur yang diingat namanya
oleh kakak-kakak kelasnya
menjadi orang atas yang peduli terhadap orang bawah yang tak henti-hentinya
berusaha untuk menjadi orang atas.
Tuesday, October 7, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)